GuidePedia

Arak-arakan Kue Tamo diringi keroncong mama sebelum memasuki bangsal syukur di Desa Bahoi Kecamatan Likupang Barat.
Manadoinside.com,  “Woow, it’s amazing,” (wow, luar biasa) ungkap Charlie Gough wisatawan mancanegara asal Inggris saat menyaksikan pesta adat Tulude yang dilaksanakan di Desa Bahoi Kecamatan Likupang Barat Selasa, (31/1/2017)
Wisman asal United Kingdom yang hadir ini terkagum kagum menyaksikan gelaran pesta adat Tulude ini.

Menurut  Gough, apresiasi pantas disematkan kepada masyarakat Kabupaten Minahasa Utara khususnya Desa Bahoi yang begitu concern memelihara budaya yang ada.

“Semangat kebersamaan sangat nampak dalam pesta Tulude ini. Di negara kami pesta juga ada, tapi keragaman budaya dan kuliner yang ditunjukan masyarakat tidak terdapat di tempat lain, apalagi di negara kami,” ujar Gough seperti yang disampaikan turis guide Akbar A.Digdo.

Kadis Damkar dan Pol-PP Theodorus Lumingkewas yang mewakili Bupati Minut Vonnie Aneke Panambunan mengatakan tradisi pesta adat Tulude ini hendaknya dipertahankan.

“Tulude ini, selain memelihara akar budaya, mengeratkan persatuan masyarakat asal Nusa Utara sekaligus juga dapat dijual sebagai komoditas pariwisata yang menarik wisman mancanegara,” tukas Lumingkewas.

Menurut Hukum Tua Desa Bahoi Daud Dalero, pesta adat Tulude ini dilaksanakan pemerintah desa sebagai ungkapan syukur atas berkat Tuhan yang sudah diterima pada tahun 2016, sekaligus juga mengawali kerja yang akan dihadapi tahun 2017.

“Dengan acara ini diharapkan warga desa Desa Bahoi dapat bersatu padu memantapkan desa ekowisata yang mandiri, religius dan bermartabat sesuai dengan tema acara kali ini,” ujar Dalero didampingi paniti Denny Sasongke S.pd.

Acara ini diisi dengan ibadah syukur yang dipimpin Pendeta  Nolia Togian Janis yang merupakan putri asli Nusa Utara.

Sebelumnya diadakan prosesi penjemputan kue tamo dan penjemputan tetua adat yang mengantar acara dengan petuah petuah yang berasal dari nenek moyang orang Nusa Utara.

Usai ibadah diteruskan dengan pemotongan kue tamo sambil diisi dengan wejangan dan doa ucapan syukur oleh tetua adat.

Kue Tamo ini dibuat dari bahan beras ketan, gula merah, santan dan minyak kelapa kemudian dihias dengan hasil bumi yang menandakan rasa syukur warga desa.

Warga kemudian larut dalam kegembiraan pagelaran masamper yang digelar usai prosesi utama.

Rubby Worek



 
Top