GuidePedia

Sekretaris Desa (tengah) bersama perangkat desa Kolongan.
Manadoinside.com, Pelayanan pemerintah Desa Kolongan Kecamatan Kalawat  Kabupaten Minahasa Utara(Minut) dikeluhkan warga.
Keluhan ini dilayangkan oleh  Grace Warouw warga Kota Manado lewat akun sosial media facebook.

Awalnya Grace yang bertindak sebagai perwakilan pemohon hendak mengurus surat keterangan domisili usaha(SKDU) dan surat ijin gangguan HO gudang mendatangi kantor Desa Kolongan.

Dia kaget saat mengetahui tarif yang dipasang oleh pemerintah Desa Kolongan untuk kedua surat tersebut masing-masing 1 juta untuk SKDU, sedangkan untuk ijin gangguan HO gudang sebesar Rp1.5 juta. Gracepun langsung mengajukan protes dan menanyakan dasar pungutan.

“ ijin gangguan HO gudang diminta 1.5 juta oleh sekdes setempat, dengan alasan katanya ini sudah ada diperdes, tapi saya minta perdesnya beliau tidak bisa menunjukannya.

Masih adakah pungli seperti ini yang menodong masyarakat gila-gilaan. Mohon pemda setempat ditindaklanjuti masalah ini….,” tulis Warouw dalam status akunnya.


Hukum Tua Desa Kolongan Denny Mokolensang SE saat ditemui Kamis (9/3/2017) di Kantor Camat Kalawat membantah kalau mereka melakukan pungli.

“Perdesnya jelas, dan itu diputuskan lewat rapat bersama BPD bersama pemerintah desa. Terkait administrasi pungutan yang ada semua terdapat  dalam Peraturan Desa (Perdes) Kolongan nomor 2 tahun 2016 ,” terang Mokolensang.


Ditambahkan, bahwa yang bersangkutan bertindak sebagai makelar. Sikapnya saat bertandang ke kantor desa tidak beretika dan terkesan arogan tidak menunjukan sopan santun layaknya seorang tamu.

”Saat itu wanita tersebut terlihat memandang remeh petugas yang ada di kantor,” imbuh Mokolensang.

Saat bertanya kepada Sekdes, yang bersangkutan juga sedang menelpon seseorang.
Terpisah Sekretaris Desa Kolongan Eske  Dendeng yang dihubungi  wartawan mengataka.

Saat rincian diperlihatkan, ibu tersebut langsung marah-marah dan mengatakan pungli. “Suami saya ketua LSM dan juga di bagian pemerintahan,” tukas Dendeng meniru ucapan Grace.


Lebih jauh dikatakan Dendeng, “Ibu tersebut datang tanpa tatakrama, langsung saja menerobos masuk, padahal di luar ada piket.

 Tidak mau mengisi buku tamu, sedang menelpon orang lain sambil berteriak ‘sekdes ya?’

Sementara itu terkait dugaan pungli ini, Grace berencana melaporkan hal ini ke tim saber pungli.

Hal ini tidak membuat gentar Hukum Tua Denny Mokolensang, “Silahkan dilapor kami sedikitpun tidak takut. Pungutan ini jelas ada perdesnya dan perdes ini ditentukan lewat rapat unsur BPD dan pemerintah desa. Lagipula ini tidak ada transaksinya,”pungkas Mokolensang.

Rubby Worek



 
Top