GuidePedia

Ketua BPD Desa Dimembe Berty Ngagi,  Hukumtua Dimembe Johanis Tuwaidan,  bersama unsur Tripika, tokoh masyarakat,  dan tokoh adat saat mengelar tradisi Mator Umbanua di balai desa Dimembe,  Jumat (11/01/2019).

Manadoinside.com, Tradisi leluhur secara turun temurun 'Mator Umbanua' yang memiliki arti pembersihan dan penyucian desa atau kampung terus dipertahankan di desa Dimembe dan Laikit kecamatan Dimembe.

Hal ini terlihat,  Jumat (11/01/2019) pagi, sejumlah masyarakat, tokoh masyarakat,  pemerintah desa,  dan para tokoh adat berbondong-bondong menyambangi kantor desa Dimembe untuk mengikuti ritual adat ini.

Cara tersebut kemudian dibuka dengan rapat paripurna desa yang dipimpin ketua BPD Dimembe Berty Ngagi SP dan dilanjutkan dengan tradisi adat,  dengan menyembelih seekor babi,  yang kemudian diambil hatinya untuk dipakai dalam tradisi adat ini.

Para tokoh adat kemudian memangil roh leluhur untuk meminta petunjuk untuk kelangsungan ritual ini. Selain hati babi,  saguer dan beberapa bahan juga disiapkan di atas meja ritual. Kemudian seluruh tokoh adat pemerintah desa dan seluruh masyarakat mengelilingi kampung atau lebih tepatnya batas-batas desa yang terdapat prasasti batu peninggalan leluhur.

Kepada harian ini,  Ketua Panitia yang juga ketua BPD Dimembe Berty Ngagi SP menuturkan jika
acara ritual 'Mator Umbanua' yang sudah dilaksanakan di desa Didembe ini merupakan kalender kerja dari pada pemerintah desa dan BPD.

 "Untuk tahun ini pemerintah desa memberikan kepercayaan kepada BPD sebagai penyelenggara dan ritual ini di laksanakan setiap tahun dan selalu digabung antara desa Dimembe dan Laikit karena dulunya kedua desa ini satu. Nanti ada musyawarah dari kedua desa ini siapa yang akan jadi pelaksana atau tuan rumah nantinya apakah akan tetap di desa Dimembe atau di desa Laikit dan itu akan ada musyawarah. Saya kira ini juga perlu kita jaga dan lestarikan karena sebagaimana yang saya sampaikan di acara pembukaan bahwa ini merupakan kearifan lokal dari desa Dimembe yang sudah dilaksanakan secara terun-temurun bukan hanya sampai pada tahun ini. Kami melihat masyarakat kali ini sangat antusias menyambut baik pelaksanan ritual ini dan kami mohon juga kepada pemerintah kabupaten yang berkompeten di bidang budaya ini boleh melihat dan setidaknya boleh di agendakan di acara kabupaten, supaya ini bisa ada dampak yang lain di sisi pariwisata," harap Ngangi yang juga Kadis Lingkungan Hidup Minut.

Ditambahkannya,  untuk kedepan kedua desa ini sudah merintis pembentukan lembaga adat, sudah ada pengurus sementara yang di laksanakan juga sudah pernah mengelar rapat bersama kedua desa, pemerintah, tokoh-tokoh adat, dan untuk pembentukan di tahun ini secara resmi sudah di bentuk dan akan dikukuhkan.

Sementra itu Hukum Tua Desa Dimembe Johanis Tuwaidan mengatakan  sebagai pemerintah desa wajib melestarikan budaya yang ada seperti ritual 'Mator Umbanua' ini.

" Disini kami bukan menyembah berhala dan ini  termasuk bersih-bersih atau penyucian kampung dan juga  bersih-bersih hati dengan keluarga. Tradisi ini sudah beregenerasi dari tahun 2002 dan ini terus dilaksanakan. Harapan kami ini harus di lestarikan terus menerus contoh untuk tua-tua kampung supaya sudah ada pengkaderan, karena tidak semua yang bisa bicara bahasa Tonsea cuma orang-orang tertentu saja yang bisah bicara seperti itu, makanya mau diusulkan kepada tua-tua kampung lebih khusus yang bisa bicara supaya ada pengkaderan. Ini untuk melastarikan budaya dan mempertahankan tradisi yang ada," tutup Kumtua. (Randy)
 
Top