Membumikan budaya Menulis di Kalangan Mahasiswa
Cari Berita

Advertisement

Membumikan budaya Menulis di Kalangan Mahasiswa

Rabu, 29 Januari 2020

Oleh : Rusmin Hasan
Aktivis : HMI Cab. Tondano

Rusmin Hasan


DALAM menempuh pendidikan di perguruan tinggi, mahasiswa tak dapat dilepaskan dari aktivitas membaca dan menulis. Kedua aktivitas tersebut dimaksudkan untuk memperkaya khazanah pengetahuan sekaligus mengembangkan spesialisasi keilmuan mahasiswa.

Dengan melakukan aktivitas membaca dan menulis, mahasiswa diharapkan akan memiliki kemampuan memahami dan mengaplikasikan bidang keilmuan yang tentu saja sangat menunjang proses akademiknya.

Aktivitas membaca dan menulis pada dasarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Untuk dapat melakukan aktivitas menulis, mahasiswa dituntut membudayakan aktivitas membaca.

Dengan kata lain, aktivitas menulis mahasiswa berkaitan erat dengan aktivitas membacanya. Namun demikian, aktivitas membaca yang menjadi landasan menulis ini ternyata belum begitu maksimal.

Masih dijumpai mahasiswa yang kurang antusias membaca literatur-literatur terkait mata kuliahnya. Tidak jauh berbeda dengan tingkat membaca masyarakat Indonesia umumnya, rendahnya minat membaca juga terjadi di kalangan mahasiswa.

Adanya kenyataan rendahnya budaya membaca di kalangan mahasiswa ini tentu berpengaruh terhadap aktivitas menulisnya. Dalam melakukan aktivitas menulis, mahasiswa dituntut membuka berbagai literatur. Kesulitan dalam melakukan aktivitas menulis dimungkinkan terjadi jika mahasiswa tidak memiliki motivasi dan ketekunan membaca.

Memang dapat dikatakan mahasiswa yang memasuki perguruan tinggi tidak bisa menghindar dari aktivitas menulis. Di perguruan tinggi, khususnya S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya tulis, seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas akhir).

Mahasiswa dituntut memiliki kemampuan menulis dalam menunjang keberhasilan studinya. Sebut saja misalnya dosen yang mengampu mata kuliah X menganjurkan mahasiswa menyusun makalah sebagai bagian dari penilaian akhir.

Mahasiswa yang mendapatkan tugas menyusun makalah tentu saja harus menuliskannya secara baik, sistematis, dan mudah dipahami.

Dengan penyusunan makalah yang baik dipastikan memudahkan dosen memahami kerangka berpikir mahasiswa dalam penyajian makalahnya.

Penyusunan makalah secara baik, sistematis, dan mudah dipahami jelas akan memberikan nilai positif. Tugas penyusunan makalah ini tidak saja diberikan oleh dosen yang megampu mata kuliah X, tetapi juga dosen-dosen mata kuliah lainnya.

Banyaknya tugas makalah yang diberikan dosen berarti menuntut mahasiswa selalu membuka literatur dan menulis.

Kebiasaan membaca dan kemampuan menuangkan pemikiran dalam tulisan yang dimiliki mahasiswa dipastikan akan berbanding lurus dengan peningkatan prestasi akademiknya.

Ditinjau lebih jauh, aktivitas membaca dan menulis sebenarnya telah ditumbuhkan dosen di perguruan tinggi. Tugas penyusunan makalah, misalnya, mengajak mahasiswa tekun membaca dan meningkatkan kualitas tulisan.

Lomba kepenulisan karya ilmiah pun sering kali diselenggarakan di perguruan tinggi, seperti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) dan Program Penulisan Kritis Mahasiswa (PPKM).

Dari pemberian tugas makalah dan lomba kepenulisan tersebut mahasiswa diarahkan untuk membiasakan membaca dan menulis sebagai tradisi intelektual di perguruan tinggi. Pertanyaannya, apakah mahasiswa memberikan respons positif terhadap stimulus menulis tersebut? Aktivitas menulis di kalangan mahasiswa bisa dikatakan belum berjalan baik.

Rangsangan menulis yang dilakukan dosen atau pun melalui lomba penulisan menunjukkan beragam perilaku di kalangan mahasiswa.

Diakui atau tidak, mahasiswa sering kali merasa terbebani dengan tugas-tugas penyusunan makalah. Setiap dosen memberi tugas menyusun makalah selalu ditanggapi negatif oleh sebagian mahasiswa. Bahkan, mahasiswa tidak jarang memberikan stigma buruk terhadap dosen yang memberi tugas menyusun makalah karena dianggap memberatkan.

Berbagai lomba kepenulisan pun hanya diikuti oleh segelintir mahasiswa. Adanya respons kurang baik dari mahasiswa ini tentu disebabkan berbagai faktor yang tidaklah sederhana.

Harus diakui jika karakter sebagian mahasiswa saat ini lebih menyukai pekerjaan yang tidak terlalu berat. Setiap tugas kuliah—tidak hanya penyusunan karya tulis—selalu dianggap membebani mahasiswa.

Budaya instan memang disadari telah menjangkiti kepribadian sebagian mahasiswa di perguruan tinggi. Perilaku menyontek saat ujian pertengahan semester dan ujian akhir semester tidak dimungkiri merupakan penyakit akut yang menunjukkan budaya instan tersebut. Mahasiswa dengan karakter seperti ini (baca : mahasiswa Z) dalam mengerjakan tugas kuliah termasuk menyusun makalah sering kali asal cepat jadi.

Dalam penyusunan makalah atau karya tulis lainnya, mahasiswa Z ini sering kali hanya memindahkan tulisan orang lain atau mencomot berbagai referensi tanpa memerhatikan kaidah penulisan yang baik dan benar. Misal, mahasiswa Z dalam menyusun tugas makalah memiliki tema “Keluarga dan Penanaman Moral”. 

Melihat potret demokrasi kita dekade ini, yang masih mencari jati diri demokrasi sejati, kian hari makin menurun dengan tindakan orogansi pemimpin serta tindakan represif militerisme sehingga narasi sederhana ini, penulis persembahkan sebagai alternatif gerakan progresif untuk kawan-kawan mahasiswa, aktivis serta semua elemen untuk kembali membumikan tradisi menulis sebagai wahana menghidupkan diskursus dalam ruang publik untuk penguatan demokrasi kita. Kegiatan menulis adalah hal yang sangat unik dan menarik, dikarenakan kita menghidupkan paradigma imajinasi nalar kritis serta sebagai titik balik menghiasi sejarah diri kita serta kita persembahkan buat generasi.

Meminjam istilah Prof. Dr. T. Jacob dalam Kata Pengantar buku Menulis Karya Ilmiah karangan Etty Indriati, Ph.D (2003), mahasiswa yang menulis karya-karya ilmiah disebut sebagai karyawan ilmiah. Bagi karyawan ilmiah, menulis seharusnya telah menjadi budaya dan panggilan hidup untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan kepada masyarakat luas.

Dengan menulis, mahasiswa tentu akan dapat mentransformasikan pengetahuan dan wawasannya.

Di pihak mahasiswa, motivasi internal dalam diri mahasiswa sendiri untuk giat menulis tentu saja sangat diharapkan. Diakhir tulisan sederhana ini, saya meminjam bahasanya sang sastrawan indonesia terkenal yakni Pramoedya Ananta Toer, Beliau mengatakan bahwa “ Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan sejarah”.(***)