Diduga Perusahaan Pemenang Tender Tak Sesuai, Sekjen LP3 Sulut Desak Tender Preservasi Jalan Esang-Rainis Talaud Rp214 M Dibatalkan -->
Cari Berita

Advertisement

Diduga Perusahaan Pemenang Tender Tak Sesuai, Sekjen LP3 Sulut Desak Tender Preservasi Jalan Esang-Rainis Talaud Rp214 M Dibatalkan

Kamis, 04 Agustus 2022

Calvin Limpek


TALAUD -- Belum bekerja proyek preservasi Jalan Esang-Rainis (Penuntasan,red) di Talaud sebesar Rp214.581.399.000 yang baru selesai tender minta dibatalkan.


Menurut Sekjen Lembaga Pemberdayaan, Pengawasan dan Pembangunan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Calvin Limpek, Inspektorat Kementrian PUPR harus melakukan uji Forensik? Alasanya, pertama proses lelang tergolong fantastis karena perusahaan PT Marga Dwitaguna sebagai pemenang tender posisinya berada di nomor urut ke-11.

Kedua, rekam jejak PT Marga Dwitaguna yang terakhir melakukan pekerjaan hanya sebesar Rp53 Miliar di Bolmong, Bolmong Utara hingga batas Gorontalo Utara.

Sementara Perpers Nomor 16/2018 dan Perpres Nomor 12/2021 tentang kemampuan dasar. Maksudnya, pemenang seharusnya sudah memiliki pengalaman atau Kemampuan Dasar (KD) dengan nilai KD sama dengan 3 x NPT (Nilai Pengalaman Tertinggi).

Jika nomor urut 11 bisa menjadi pemenang pada  paket pekerjaan ini, apakah dari nomor urut 1 sampai 3 tidak memiliki KD?. Dugaan kami, ada permainan yang perlu kami dalami, dan ini sangat jelas dalam persyaratan memenuhi sisa kemampuan Paket SKP dengan perhitungan SKP KP–P," tutur Limpek.

Limpek menyatakan LP3 Sulut dalam waktu dekat akan memasukan surat pembatalan tender pemenang paket pekerjaan dan mendesak dilakukan uji forensik oleh Inspektorat Kementrian PUPR, dan meminta agar POKJA diperiksa dasar pengusulan PT Marga Dwitaguna sebagai pemenang paket pekerjaan ini.

"Sudah lama mereka menilai dan menelusuri setiap paket pekerjaan yang di lelangkan di BP2JK Sulawesi Utara, Ada begitu banyak kejangalan, dan sekarang paket pekerjaan ini sangat besar. 

Sebagai alat kontrol sosial kami tidak ingin Kabupeten Talaud dijadikan tempat meraup keuntungan yang besar buat kotraktor yang tidak kualified.

Kami tidak ingin jadi seperti CV Dian Mosesa yang akhirnya di blacklist karena pekerjaan di Talaud yang akan di lanjutkan oleh PT Marga Dwitaguna ini," tandasnya.

Selain itu, Limpek, menjelaskan bahwa PT Marga Dwitaguna belum memiliki AMP (Asphalt Mixing Plant) di wilayah Kabupaten Talaud. Dan yang ada baru dua perusahan di Talaud dan PT Marga Dwitaguna tidak diantara keduanya.

"Untuk itu, kami merasa perlu menyurat secara resmi kepada Inspektorat Kementrian PUPR agar di lakukan Uji  Forensik paket lelang pekerjaan ini," tukas Limpek.

Ia menambahkan, sejak 2007 diketahui PT Marga Dwitaguna tidak terdaftar sebagai salah satu perusahan yang pernah memenangkan paket  pekerjaan yang sama dengan paket pekerjaan yang dimenangkan saat ini Jalan Esang Rainis.

"Dalam aturan itu regulasinya mengatur harusnya pemenang tender sudah pernah mengerjakan Dasar (KD) dengan nilai KD sama dengan 3 x NPT (Nilai Pengalaman Tertinggi)," jelasnya.

Anehnya, kenapa Kementrian PUPR-RI sejak Tahun 2007 PT Marga Dwitaguna baru sekali memenangkan paket pekerjaan sebesar Rp53 Miliar di tahun 2021, tidak 3X NPT. JAdi jelas harusnya Perusahan tersebut minimal sudah pernah mengerjakan pekerjaan bahagi tiga dari total anggaran sebesar Rp214 Miliar.

"Idealnya PT Marga Dwitaguna sudah pernah mengerjakan paket pekerjaan dengan total sebesar Rp71,333.333 Miliar.

Nah ini yang menjadi perhatian kami di Keputusan Menteri ini saya pertanyakan kenapa bisa memberikan pemenang pada perusahaan  yang belum 3X NPT. Untuk itu, ini jadi dasar kami meminta tender ini dikaji kembali terkait dengan paket lelang tersebut berdasarkan Keputusan Menteri PUPR dan Keputusan Kepala Balai BP2JK berdasarkan pendapat TIM POKJA BP2JK Sulawesi Utara.

"Kalau benar keputusan memenangkan PT Marga Dwitaguna keliru saya minta Aparat Penegak Hukum tehas untuk melakukan penyelidikan terkait lelang tahun 2022 ini.

Dan tidak menutup kemungkinan lelang lelang kecil sejak beberapa tahun lalu bisa saja ada yang keliru atau ada kongkalingkong di dalamnyandan harus di bongkar," tutupnya.(@i)